ARIF RH

Change Your Vibration, Change Your Life

MENYIBAK MISTERI RUH, WALAUPUN HANYA SEDIKIT – Bagian 2

Double slit experiment dilakukan dalam rangka mencari tahu tentang bagaimana sebenarnya perilaku cahaya (light). Cahaya itu sebenarnya partikel atau gelombang? Sifat antara partikel dan gelombang itu jelas sangat berbeda. Partikel adalah MATERI atau sesuatu yang “tampak”, yang dalam video double slit experiment diilustrasikan sebagai bola-bola (marbels). Sementara gelombang itu adalah sesuatu yang tidak tampak. Nah lalu apa yang mencengangkan dari double slit experiment? Ternyata perilaku cahaya adalah PARTIKEL sekaligus GELOMBANG. Gubraggg!!! Bagaimana mungkin sesuatu itu bersifat tampak dan tidak tampak sekaligus? Namun itulah kenyataannya. Sifat cahaya adalah DUALITAS PARTIKEL GELOMBANG.

 .

Sekarang perhatikan diri kita ini. Bukankah diri kita terdiri dari dua hal yang kontradiktif sekaligus? Di satu sisi kita ini NAMPAK namun ada juga komponen diri kita yang TIDAK NAMPAK tapi keduanya SATU KESATUAN. Sifat manusia juga DUALITAS PARTIKEL GELOMBANG. JASAD kita memiliki sifat sebagaimana partikel atau materi. Sementara sosok di dalam diri kita yang menyebut dirinya sebagai AKU adalah sesuatu yang tidak nampak, yang saya katakan bersifat gelombang. Bisakah anda mulai melihat keterkaitannya antara hakikat kehidupan dengan hikmah tersembunyi di balik double slit experiment? Jika anda belum melihat keterkaitannya saya akan bawa lagi pembahasannya kepada dalil-dalil non logika sebagai pembanding. Mohon maaf kepada yang non muslim. Tulisan ini tetap buat anda semua yang beragama apapun kok. Lanjuuuuuuuut.

 .

light_double_slit_experiment (1)

.

Friends, kata kuncinya adalah CAHAYA. Yah, yang memiliki sifat dualitas partikel gelombang adalah cahaya. Cahaya bisa mewujud menjadi sesuatu yang tampak dan tidak tampak. Memang saya TIDAK MENGATAKAN di sini bahwa Allah = Cahaya, BUKAN begitu maksudnya. Tapi perhatikan dan telusuri mengapa Allah menggunakan perumpamaan CAHAYA? Ada apa di balik kata cahaya? Dan Allah membuat metafora bahwa diri-Nya sebagai CAHAYA DI ATAS CAHAYA?

 .

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat per­umpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Terjemahan QS. 24:35)

 .

Bagaimana dengan ruh? Dalam hadits Qudsi disebutkan “Telah Ku ciptakan ruh Muhammad dari CAHAYA dzat-Ku (wajh)”Nah bukankah RUH ada hubungannya dengan CAHAYA? Malaikat diciptakan dari CAHAYA, dalam beberapa ayat disebut juga sebagai AR-RUH. Dalam case tersebut yang dimaksud adalah malaikat jibril. Tapi kan semua malaikat diciptakan dari cahaya tho? So, saya katakan di sini esensi RUH adalah CAHAYA. Dan CAHAYA dalam diri ini berasal dari DIA, sang CAHAYA DI ATAS CAHAYA.

 .

Bersambung ke bagian 3

 .

 .

Salam Hakikat

ARIF RH – The Happiness Consultant

Updated: August 4, 2014 — 12:07 pm

Leave a Reply

ARIF RH © 2014 | Design by Pandu Frontier Theme