ARIF RH

Change Your Vibration, Change Your Life

MENGKAJI ULANG MAKNA DO’A – Bagian 3

Ni kebetulan ada sahabat FB saya mas Halim Byll menggunakan Google translator terjemahannya kaya gini:

 .

Penelitian lain pada kekuatan penyembuhan dari doa menunjukkan bahwa faktor penentu utama keberhasilan atau kegagalan adalah tingkat ketidakterikatan dari yang berdo’a.

Antara tahun 1975 dan 1993 Yayasan Spindrift dilakukan ratusan ribu tes untuk menilai efektivitas doa diarahkan (yaitu, fokus pada hasil yang spesifik) versus non-directed doa (di mana hanya yang terbaik bagi orang tersebut diminta).

Kedua diarahkan dan doa nondirected bekerja lebih baik untuk kelompok kontrol untuk siapa tidak ada doa-doa diketahui dikatakan, tetapi non-directed doa menunjukkan tingkat keberhasilan yang signifikan lebih tinggi dari doa diarahkan

 .

Anda pusing ya baca terjemahannya ha ha ha ha. Emang terjemahan google gak bisa pas banget. Oke deh saya jelaskan. Bahwa setelah diteliti melalui ribuan uji coba bahwa penentu keberhasilan dan kegagalan do’a adalah tingkat kemelekatan terhadap do’a itu sendiri. Kemelekatan ini udah saya bahas di note yang lain. Intine kita TERLALU TEROBSESI DENGAN KEINGINAN, ini kemelekatan. Dan dalam riset di atas itu diujikan ada sekelompok orang yang diujicoba untuk mengarahkan do’a untuk kesembuhan seseorang.

 .

Praying

.

Kelompok pertama BERDO’A DENGAN SPESIFIK DAN MENDIKTE(directed-prayer). Saya contohkan do’anya begini : “YA TUHAAAAAAAN SEMBUHKANLAH ORANG INI”. Nah jelas kan? Dalam do’a ini ada kata permintaan yang bernuansa menyuruh-nyuruh atau mendikte Tuhan yaitu SEMBUHKANLAH !

 .

Sedangkan kelompok kedua BERDOA DENGAN TIDAK SPESIFIK, HANYA MENGATAKAN “APAPUN YANG TERBAIK UNTUK ORANG TERSEBUT KAMI MENERIMA APA ADANYA” (non-directed). Kurang lebih begitu. BEDA khan? Kagak nyuruh-nyuruh kan? Bahkan nuansanya hanya menerima, ya menerima apa adanya. Apa yang terjadi?

 .

Ternyata kedua do’a itu EFEKTIF alias ikut memberikan kontribusi bagi kesembuhan orang yang dimaksud. Namun ada yang membedakan. Setelah dibandingkan ternyata KELOMPOK KEDUA YANG MENERIMA APA ADANYA ALIAS TIDAK MEMINTA KESEMBUHAN MALAH MEMBERIKAN HASIL YANG LEBIH SIGNIFIKAN. SIGNIFIKAN ini bahasa riset atau bahasa statistik. Kalo saya jelasin di sini ribet. Intinya JAUH SANGAT SANGAT LEBIH EFEKTIF !!!

 .

Nah lo !!!!. Saya akhirnya menemukan jawabannya. O laaa pantes saja dulu saya mengejar-ngejar impian gak kena-kena. Giliran dengan “santai” malah pada berdatangan sendiri dan melampaui target. Ini dia kuncinya. TIDAK MELEKAT, TIDAK TEROBSESI DENGAN KEINGINAN ATAU DO’A ITU. MENERIMA APA ADANYA. Dan saya terapkan ini terus termasuk dalam melakukan terapi kepada klien. Dan ketika saya bisa membawa klien ini MENERIMA APAPUN YANG DIALAMINYA MAKA MASALAHNYA LENYAP DENGAN CARA AJAIB.

 .

Saya kemudian mencoba membandingkan dengan karya-karya klasik para sufi. Salah satunya tulisan-tulisan-tulisan dari IBNU ATHAILLAH penulis AL HIKAM. Saya tercengang. INI COCOK SEKALI !!!

 .

Bersambung ke bagian 4 …

 .

.

Salam Hakikat …

ARIF RH

(The Happiness Consultant)

Updated: August 4, 2014 — 11:50 am

Leave a Reply

ARIF RH © 2014 | Design by Pandu Frontier Theme