ARIF RH

Change Your Vibration, Change Your Life

MEMBUAT BUKU IMPIAN ; MENYULITKAN ATAU MEMUDAHKAN HIDUP? – Bagian 3

Karena permintaan untuk memberikan pelatihan mulai banyak, saya mulai dilanda kebimbangan. Apakah saya mau terjun 100% total di dunia training atau masih mempertahankan pekerjaan saya di lembaga pendidikan ini? Hingga suatu waktu ada sebuah deal project pelatihan selama dua hari yang nilainya sangat besar bagi saya dan rekan waktu itu. Ini delapan kali lipat gaji saya di lembaga pendidikan selama sebulan, kenapa saya tidak berani total?, pikir saya. Akhirnya saya mantap memutuskan, oke saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya dan fokus hanya di dua hal yaitu pelatihan dan jasa analisis data statistik. Dan bisnis jasa analisis statistik itu pun setelah 3 bulanan saya lepas dan saya fokus total di dunia pelatihan. Sementara rekan saya masih bertahan 2 bulan lagi karena beberapa alasan teknis yang saya kira tidak perlu untuk saya uraikan di sini.

 .

Saya itu tahun 2007 jadi trainer ini modal nekad. Kagak ngerti NLP, hypnosis atau “tethek bengek” dan semacamnya. Mudeng NLP dan Hypnosis dan semacamnya ya mulai ikut-ikut training soal itu mulai tahun 2009 an. Jadi di awal-awal saya banyak belajar secara otodidak melalui buku, modal pengalaman hidup sendiri. Saking seriusnya dengan profesi ini koleksi buku saya waktu kuliah yang isinya filsafat, metode penelitian dan statistik saya jual semua kepada rekan saya yang jadi dosen waktu itu. Buku sebanyak dua kardus  besar diborong sama dia. Uangnya saya belikan buku-buku motivasi untuk pengembangan diri. Nah dari buku-buku yang saya beli ini ternyata kebanyakan juga isinya sama, yaitu MILIKI IMPIAN dan BUAT BUKU IMPIAN. Ah ini sama dengan dulu itu. Tapi apa salahnya saya coba lagi. Mungkin dulu itu ada yang salah sehingga buku impian saya isinya belum ada yang terwujud.

 .

kesalahan-kesalahan fatal dalam mengejar impian

.

Lalu bagaimana hasilnya? Saya beberapa kali membuat impian dan target pribadi. Saya sudah membayangkan target itu, melakukan visualisasi dan sebagainya kayak di buku-buku. Namun bisa dikatakan 80% sering meleset ! Dan yang aneh justru kadang yang tidak ditargetkan dan tidak dikejar malah tercapai atau datang sendiri. Ah mungkin saya yang kurang total dalam action dan implementasinya. Namun mengapa ini terjadi berulang-ulang? Saya amati sampai awal tahun 2009 juga demikian. Saya mulai curiga jangan-jangan ada yang keliru ini. Hingga pada suatu hari saya membaca ulang sebuah buku yang sudah lama saya beli karya pak Adi. W. Gunawan yang berjudul “Kesalahan-kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian”. Disebutkan dalam buku itu bahwa kita akan mengalami percepatan dalam hidup jika sudah menemukan passion kita. AHA INI DIA !!!

 .

Apa itu passion? Sederhananya passion adalah aktivitas yang memiliki beberapa ciri berikut ini :

  • Kita menyukai pekerjaan atau aktivitas tersebut
  • Kita mau melakukan pekerjaan atau aktivitas tersebut meski tidak dibayar
  • Kita merasa mudah melakukannya, sedangkan orang lain merasa sulit
  • Semakin sering kita melakukannya, semakin baik kita dalam bidang itu
  • Kita sering dipuji orang karena melakukannya
  • Kita selalu bersemangat ketika membicarakan pekerjaan atau aktivitas tersebut
  • Kita selalu memiliki energi yang besar saat melakukan pekerjaan atau aktivitas tersebut
  • Kita sering lupa waktu saat melakukan pekerjaan atau aktivitas tersebut
  • Kita merasa puas ketika melakukan pekerjaan atau aktivitas tersebut
  • Kita merasa bahagia dan pede saat melakukan pekerjaan tersebut
  • Kita mudah mempengaruhi orang lain dalam pekerjaan atau aktivitas tersebut

.

Dari semua ciri-ciri tersebut saya cek semua tandanya ada pada profesi yang sedang saya jalani saat ini. Kemudian saya merubah niat dalam diri saya. Meskipun saya membuat impian dan target saya tidak perduli lagi dengan tercapai atau tidaknya target-target itu. Saya tidak lagi khawatir dan cemas mau tercapai mau tidak yang penting I LOVE THIS JOB !! I WILL DO MY BEST !! Saya hanya fokus pada passion saya. Saya jalani profesi saya sepenuh hati, apa adanya. Fokus kepada wadah, bukan fokus kepada isi. Karena jika “wadah kita” sudah siap, “isinya” akan datang sendiri.

Bersambung ke bagian 4 …

 .

Salam Hakikat …

ARIF RH

(The Happiness Consultant)

Updated: August 4, 2014 — 9:49 am

Leave a Reply

ARIF RH © 2014 | Design by Pandu Frontier Theme