ARIF RH

Change Your Vibration, Change Your Life

KEAJAIBAN TIDAK IDENTIK DENGAN TERKABULNYA KEINGINAN – Bagian 1

Judul di atas mungkin bagi sebagian orang agak aneh. Atau mungkin menurut anda juga aneh? Bahkan mungkin agak “bertentangan” dengan catatan saya tentang do’a, vibrasi dan semacamnya. Keajaiban kok tidak identik dengan terkabulnya keinginan? Maksudnya bagaimana? Demikian beberapa pertanyaan yang diajukan kepada saya lewat pesan inbox. Menjawab pertanyaan itu saya beberapa kali menuliskan status ini di facebook :

 .

Suatu saat anda akan ke luar kota dan berdo’a …

 “Ya Allah … Lancarkan perjalanan hambamu ini”

 .

Dan di saat yang sama … 

 Seorang tukang tambal ban yang jujur (tidak masang paku secara sengaja) berdo’a …

“Ya Allah … Istri saya sakit … Anak saya besok harus bayar SPP …

Hanya engkau yang bisa menolongku saat ini” …

 .

Dan beberapa waktu kemudian … Ban kendaraan anda bocor …

Di tambal di tempat si tukang tambal ban yang tadi berdo’a itu …

 .

Mungkin dalam kasus ini do’a anda tidak dikabulkan …

Perjalanan anda tidak lancar sebagaimana yang anda harapkan …

Tapi bukankah TUHAN menempatkan anda ke tempat yang lebih mulia?

 .

Yaitu menjadi ‘KEPANJANGAN TANGAN-NYA” untuk menjawab do’a orang lain …

 .

*sonthen.hakikat 

 .

Setelah saya jelaskan dengan contoh di atas tetap ada saja yang tidak setuju. “Ah itu kan hanya pembenaran saja, alias obat sakit hati karena ban-nya kempes”. Atau mungkin juga mengatakan, “lha itu karena pikirannya atau vibrasinya memancarkan hal-hal buruk makanya ban-nya bocor”. Oke oke. Dalam kacamata hukum vibrasi dan hukum resonansi itu betul. Namun kehidupan ini terlalu kompleks untuk dijelaskan hanya dengan satu hukum saja. Ibarat pertandingan sepakbola peraturannya ya tidak hanya handsball.

 .

tambal-ban

.

Bagi saya, keajaiban tidak identik alias tidak selalu sama dengan terwujudnya keinginan. Saya pribadi menjadi seperti sekarang ini karena banyak keinginan yang tidak terwujud. Dulu saya kepingin sekali jadi dosen, dan tidak dikabulkan. But it’s ok. Saya sangat menikmati apa yang saya jalani sejak tahun 2007 hingga sekarang ini. Menurut pemahaman saya, saat do’a atau keinginan kita belum atau tidak dikabulkan sebenarnya kita sedang dilibatkan dalam proses pengabulan do’a orang lain. Mau contoh? Oke. Misalnya anda ikut sebuah perlombaan. Pasti semua yang ikut lomba ingin juara pertama. Namun ternyata anda hanya menempati juara kedua. Menyesal? Itu hak anda. Tapi kalau kita mau memperluas sudut pandang bukankah orang lain menjadi juara pertama karena anda juara kedua? Saat anda juara pertama maka terkabulnya do’a anda “menyebabkan” tidak terkabulnya do’a orang lain yang ingin juara pertama.

 .

Saya berikan contoh lagi di sini. Saya kira contoh ini sudah sangat sering anda dengar. Tapi gak masalah saya tulis lagi di sini. Begini. Misal, suatu saat anda akan menghadiri rapat dengan klien di luar pulau. Dan anda sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik karena agenda ini adalah bisnis bernilai milyaran rupiah. Anda sudah berdo’a kepada Tuhan supaya semuanya dimudahkan dan dilancarkan. Eh karena sesuatu hal di luar dugaan anda “ketinggalan pesawat” dan anda kehilangan kesempatan bisnis milyaran rupiah. Pada titik ini saya yakin anda akan merasa sangat down. Dan mungkin MEMPERTANYAKAN, kenapa sih saya harus ketinggaan pesawat? Anda mulai mencari sumber kesalahan, bahkan mungkin mulai menyalahkan Tuhan. Sekitar 1 jam kemudian ada sebuah informasi ternyata pesawat yang “meninggalkan” anda tadi mengalami musibah. Apa respon anda? BUKANKAH ANDA TERTINGGAL PESAWAT ITU KEAJAIBAN? BUKANKAH ANDA KEHILANGAN UANG MILARAN RUPIAH ITU KEAJAIBAN? BUKANKAH PERJALANAN MENUJU BANDARA YANG TIDAK LANCAR ITU KEAJAIBAN?

 .

Apa sih yang membuat catatan ini saya segerakan untuk saya selesaikan? Karena setelah catatan tentang vibrasi saya posting, pertanyaan yang mendominasi di inbox adalah BAGAIMANA SUPAYA KEINGINAN SAYA TERKABUL? BAGAIMANA SUPAYA DO’A SAYA JOSS? Bukan pertanyaannya salah kawan. Masalahnya adalah saya bukanlah DZAT pengabul do’a. Manusia memang dilibatkan membentuk realitas. Namun kita harus ingat bahwa kita hanya sebagai CO-CREATOR, bukan aktor penentu utama.

 .

Bersambung ke bagian 2 …

 .

Salam Quantum …

 .

.

ARIF RH

(The Happiness Consultant)

Updated: August 4, 2014 — 7:12 am

Leave a Reply

ARIF RH © 2014 | Design by Pandu Frontier Theme